Senin, 02 Juli 2012

jenis - jenis tanah


Tanah adalah lapisan atas bumi yang merupakan campuran dari pelapukan batuan dan jasad makhluk hidup yang telah mati dan membusuk.  Oleh pengaruh cuaca, jasad makhluk hidup tadi menjadi lapuk, mineral-mineralnya terurai (terlepas), dan kemudian membentuk tanah yang subur. Tanah juga disebut lithosfer (lith = batuan) karena dibentuk dari hasil pelapukan batuan.
Tanah merupakan unsur kehidupan yang paling penting. Tanpa tanah, tentu kita tak ada tempat berpijak. Tanah memiliki banyak jenis karena perbedaan proses pembentukan dan unsur yang terdapat di dalamnya juga berbeda. Berikut jenis-jenis tanah yang ada di Indonesia. Indonesia adalah negara kepulauan dengan daratan yang luas dengan jenis tanah yang berbeda-beda. Akibat dari proses pembentukan tanah yang berbeda-beda maka terdapat berbagai macam jenis tanah, yaitu ada 9 jenis tanah yang berada di Indonesia sebagai berikut :
1. Tanah Organik
Tanah organik merupakan tanah yang telah terendam air dalam waktu yang lama atau setidaknya selama 1 bulan dan mengandung bahan karbon organik > 12% jika berlempung atau mengandung bahan karbon organik > 18% jika berlempung 60% dan lempung tersebut berimbang dan proposional. Tanah organik dapat digolongkan kedalam Histosol jika lebih dari 50% lapisan atas tanah dalam memiliki ketebalan 40 – 80 cm. Bahan penyusun tanah organik dapat dibedakan menjadi 3 macam yaitu;
  1. Fibrik yang dekomposisinya paling sedikit, sehingga masih banyak mengandung serabut, BJ rendah (< 0,1), kadar air tinggi dan berwarna coklat;
  2. Hemik merupakan peralihan dengan dekomposisi separuhnya, masih banyak mengandung serabut dengan BJ 0,07 – 0,18, dengan kadar air tinggi serta berwarna lebih kelam;
  3. Saprik merupakan dekomposisinya paling lanjut, kurang mengandung serabut, BJ > 0,2 atau lebih, kadar air tidak terlalu tinggi dengan warna hitam dan coklat kelam;
2. Tanah Mineral
·         Litosol
Litosol merupakan tanah yang sangat muda, sehingga bahan induknya sering terlihat dangkal atau < 20 cm, profilnya belum memperlihatkan horison penciri dengan sifat-sifat dan ciri morfologi yang masih menyerupai batuan induknya. Tanah litosol tidak berkembang karena pengaruh iklim yang lemah atau terlalu agresif, letusan gunungapi, atau topografi dengan kemiringan yang tinggi. Proses pembentukan tanah lebih lambat dari proses penghilangan tanah akibat dari erosi, sehingga solum tanah cenderung semakin dangkal. Proses peremajaan tanah dapat terjadi akibat dari tertutupnya permukaan tanah karena banjir lahar dingin atau tuf vulkanis. Tanah litosol yang berada pada topografi yang tidak rata maka lingkungan alkalis dapat menyebabkan lempung 2/1 yang terbentuk sangat peka terhadap erosi. Tanah litosol ini banyak terdapat pada daerah pegunungan kapur dan karst di wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa tenggara, serta Maluku bagian selatan.
·         Aluvial
Tanah Aluvial merupakan tanah endapan yang terjadi karena proses luapan banjir, sehingga dapat dianggap masih muda dan belum ada diferensiasi horison. Endapan aluvial yang sudah tua dan menampakkan akibat pengaruh iklim serta vegetasi tidak termasuk kedalam jenis tanah aluvial. Ciri khas pembentukkan tanah aluvial adalah bagian terbesar bahan kasar akan diendapkan tidak jauh dari sumbernya. Tekstur tanah yang diendapkan pada waktu dan tempat yang sama akan lebih seragam, dan semakin jauh dari sumbernya maka makin halus butir yang diangkut. Karena itu jika pembentukan terjadi pada musim hujan maka sifat bahan-bahannya juga tergantung pada kekuatan banjir serta asal dan macam bahan yang diangkut, oleh karena itu menampakkan ciri morfologi berlapis yang bukan merupakan hasil perkembangan tanah. Sifat tanah aluvial dipengaruhi langsung oleh sumber bahan asal, sehingga kesuburannya juga ditentukan oleh sifat bahan asalnya. Jika dilihat berdasarkan genese tananhnya, maka tanah aluvial kurang dipengaruhi oleh iklim dan vegetasi, tetapi yang paling nampak pengaruhnya pada ciri dan sifat tanahnya ialah bahan induk dan topografi sebagai akibat dari waktu terbentuknya yang masih muda. Menurut bahan induknya terdapat tanah aluvial pasir, lempung, dan kapur. Dengan memperhatikan cara terbentuknya maka fisiografi untuk terentuknya tanah ini terbatas pada lembah sungai, datarn pantai, dan bekas danau, yang memiliki relief datar dan cekung. Tanah aluvial di Indonesia pada umumnya baik untuk komoditas pertanian dan perkebunan berupa padi, palawija, dan tebu. Tanah aluvial di indonesia ada pula yang dimanfaatkan untuk tambak bandeng dan gurameh.
·         Pasiran
Tanah pasiran pada umumnya belum jelas membentuk diferensiasi horison, meskipun pada tanah pasiran tua horison sudah mulai terbentuk horison A1 lemah berwarna kelabu, mengandung bahan yang belum mengalami pelapukan. Tekstur tanah pada umumnya kasar, struktur kersai atau remah, konsistensi lepas sampai gembur, dan pH 6 – 7. Semakin tua umur tanah struktur dan konsistensinya makin padat, bahkan dapat membentuk padas dengan drainase dan porositas yang terhambat. Pada umumnya jenis tanah ini belum membentuk agregat, sehingga peka terhadap erosi. Tanah pasiran pada umumnya mengandung unsur P dan K yang masih segar dan belum siap untuk diserap tanaman, tetapi unsur N terdapat dalam jumlah yang sangat sedikit. Berdasarkan bahan induknya tanah pasiran dapat dibedakan menjadi 3 yaitu; (1). Abu vulkanik pada daerah-daerah vulcanic fan (lahar vulkanik yang ke bawah melebar seperti kipas), (2).  Bukit pasir sand dune biasanya terdapat pada daerah pantai, (3). Batuan sedimen dengan topografi bukit lipatan.
3. Tanah Merah
Tanah merah merupakan tanah yang mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia muali dari tepi pantai yang landai hingga pegunungan tinggi yang berbukit atau bergelombang, dengan kondisi iklim agak kering hingga basah, terbentuk dari batuan beku, sedimen atau malihan. Variasi tanah merah yang baru dijumpai digolongkan ke dalam Podzolik Merah Kuning, sehingga jenis tanah tersebut mampunyai ciri dan sifat yang terluas.
·         Latosol
Tanah latosol merupakan tanah yang meliputi semua tanah zonal di daerah tropika dan katulistiwa mempunyai sifat-sifat dominan yaitu; (1). Nilai SiO2 fraksi lempung rendah, (2). Kapasitas pertukaran kation rendah, (3). Lempungnya kurang aktif, (4). Kadar mineral rendah, (5). Kadar ahan larut rendah, (6). Stabilitas agregat tinggi, (7). Berwarna merah.  Latosol meliputi tanah-tanah yang telah mengalami pelapukan intensif dan perkembangan tanah lanjut, sehingga terjadi pelindian unsur basa, bahan organik dan silika, dengan meninggalkan sesquioksid sebagai sisa berwarna merah. Ciri morfologi yang umum adalah tekstur lempung sampai geluh, struktur remah sampai gumpal lemah dan konsistensi gembur. Warna tanah sekitar merah tergantung susunan mineralogi, bahan induk, drainase, umur tanah dan keadaan iklim. Latosol terbentuk di daerah-daerah beriklim humid tropika tanpa bulan kering sampai subhumid yang bermusim kemarau agak lama, bervegetasi hutan basah sampai savana, bertopografi bergelombang sampai berbukit dengan bahan induk hampir semua macam batuan. Tanah latosol terdapat pada daerah tropis hingga subtropis. Di Indonesia tanah latosol pada umumnya berasal dari batuan induk vulkanik, baik tuff maupun batuan beku, terdapat mulai dari tepi pantai sampai ketinggian 900m dpal dengan topografi miring, bergelombang, vulcanic fan hingga pegunungan denga iklim basah tropis curah hujan 2500 – 7000 mm.
·         Mediteran Merah Kuning
Jenis tanah ini memiliki hubungan dengan iklim laut  tengah (miditerania) yang dicirikan dengan musim dingin banyak hujan dan musim panas kering. Tanah ini pertama kali ditemukan dan diselidiki sekitar laut tengah disepanjang pantai Eropa, sepanjang pantai asia barat yang mengitari laut tengah. Selain itu tanah inipun terdapat di Amerika Selatan dan Asia Tenggara (Indonesia, Laos, Filipina). Jenis tanah ini terutama yang merah juga terkenal dengan nama Terra Rossa. Dibandingkan dengan batu kapur sebagai bahan induk tanah Mediteran Merah Kuning memperlihatkan akumulasi sesquioksida dan silika, sedangkan jika dibandingkan dengan jenis-jenis tanah dari daerah humid seperti latosol, jenis tanah ini mempunyai lebih kadar alkali dan alkali tanah. Tingginya kadar Fe dan rendahnya kadar bahan organik menyebabkan tanah Mediteran Merah Kuning berwarna merah mengkilat, bertekstur geluh dan mengandung konkresi Ca dan Fe. Di Indonesia tanah jenis ini lanjut mengalami pembentukan tanah dengan cara lixiviasi dan kalsifikasi lemah, tekstur berat, konsistensi lekat, kadar bahan organik rendah, reaksi alkalis, derajad kejenuhan bsa tinggi, horison B tekstur berwarna kuning merah, mengandung konkresi-konkresi kapur dan besi, horison eluvial umumnya tererosi, dengan topografi berbukit sampai pegunungan. Jenis tanah ini berasal dari dari batuan basaltik terdapat di daerah Baluran Jawa Timur yang berasal dari batu kapur di Gunung Kidul, Jawa Tengah, dan Nusa Tenggara.
4. Tanah Lateritik
Tanah Lateritik banyak tersebar di daerah yang beriklim humid dari tropis hingga subtropis. Beberapa ciri umum morfologi lateritik adalah sebagai berikut; (1) solum dangkal dengan kedalaman < 100 cm, (2) susunan horison A, B, dan C, dengan horison B spesifik berwarna merah kuning sampai kuning coklat dan bertekstur paling halus adalah lempung, (3) mengandung konkresi Fe/Mn lapisan kwarsa yang menyebabkan adanya air. Tanah jenis ini tersebar pada dataran rendah dengan ketinggian 100 m dpal, serta memiliki relief datar hingga sedikit bergelombang dengan bahan induk andesit dankKeadaan iklim basah dengan curah hujan antara 2500-3500 mm/thn tanpa bulan kering.
5. Tanah Podzolik Merah Kuning
Tanah Podzolik Merah Kuning di Indonesia mempunyai lapisan permukaan yang sangat terlindi berwarna kelabu cerah sampai kekuningan di atas horison akumulasi yang bertekstur relatif berat berwarna merah atau kuning dengan struktur gumpal, agregat kurang stabil dan permeabilitas rendah. Kandungan bahan organik penjenuhan basa dan pH rendah (4,2 – 4,8). Perkembangan lapisan permukaan yang terlindi kadang-kadang kurang nyata. Jenis tanah ini di Indonesia terbentuk dalam daerah beriklim seperti Latosol, perbedaannya hanya karena bahan induk Latosol berasal dari batuan vulkanik basa dan intermediate, sedangkan tanah podzolik berasal dari batuan beku dan tuff. Sebaran tanah podzolok merah kuning di Indonesia tersebar di beberapa wilayah diantaranya di Sumatera, Kalimantan, Jawa Tengah, dan Jawa Timu, yang dimanfaatkan untuk daerah perladangan dan perkebunan karet.
6. Andosol
Tanah andosol adalah tanah yang berwarna hitam kelam, sangat sarang, mengandul bahan organik dan lempung tipe amorf, terutama alofan serta sedikit silika, alumina atau hidroksi besi. Sifat umum tanah andosol antara lain adalah; horison A1 yang tebal berwarna kelam, coklat sampai hitam, sangat porous, sangat gembur, tak liat, tak lekat, struktur remah atau granuler, terasa berminyak karena mengandung bahan organik antara 8% sampai 30% dengan pH 4,5 – 6, beralih tegas ke horison B2 . Horison B2 berwarna kuning sampai coklat, tekstur sedang, struktur gumpal dengan granulasi yang tak pulih, mengandung bahan organik antara 2% hingga 8% dengan kapasitas pengikatan air tinggi, serasa seperti berbentuk batang gibsit dari oksida Al atau Fe dengan bahan amorf terdiri atas plasma poreus isotropik. Sifat fisik tanah andosol antara lain; (1) daya pengikat air sangat tinggi, (2) angka-angka konsistensi Atterberg sangat tinggi, (3) selalu jenuh air jika tertutup vegetasi, (4) sangat gembur tetapi mempunyai katahanan struktur yang tinggi sehingga mudah diolah, (5) permeabilitas sangat tinggi karena mengandung banyak makropori.
7. Tanah Lempung 2/1 (Vertisol atau Grumusol)
Ciri-ciri tanah lempung ini antara lain sebagai berikut; (1) tekstur lempung dalam bentuk yang mencirikan, (2) tanpa horison eluvial dan iluvial, (3) struktur lapisan atas granular, sering berbentuk seperti bunga kubis, dan lapisan bawah gumpal atau pejal, (4) mengandung kapur, (5) koefisien pemuaian dan pengerutan tinggi jika diubah kadar airnya, (6) seringkali mikroreliefnya gilgai, (7) konsistensi luar biasa liat, (8) bahan induk berkapur dan berlempung sehingga kedap air, (9) dalam solum rata-rata 75 cm, (10) warna kelam atau chroma kecil. Tanah ini di Indonesia tersebar pada daerah-daerah pada ketinggian < 300 m dpal, dengan topografi agak bergelombang hingga berbukit, temperatur tahunan rata-rata 25 C dengan curah hujan < 2500 mm dengan pergatian musim hujan dan musim kemarau nyata. Bahan induknya terbatas pada tanah bertekstur halus atau terdiri atas bahan-bahan yang sudah mengalami pelapukan seperti batu kapur, batu napal, tuff, endapan aluvial dan abu vulkanik. Kandungan bahan organik pada umumnya antara 1,5 – 4,0 %, warna tanah dipengaruhi oleh jumlah humus dan kadar kapur. Tanah yang kaya kandungan kapur pada umumnya berwarna hitam, sedangkan yang bersifat asam berwarna kelabu. Jenis tanah ini mengandung unsur-unsur Ca dan Mg tinggi, bahkan dalam beberapa keadaan dapat terbentuk konkresi kapur dan akumulasi kapur lunak. Jenis lempung yang terbanyak montmorilonit, sehingga tanah mempunyai daya adsorpsi tinggi (50-100 me / 100g lempung). Jika tanah mengering setelah hujan pertama permukaan gumpal tanah grumusol yang kaya akan kapur memperlihatkan struktur bunga kol. Sifat-sifat tanah vertisol yang sangat berat menyebabkan jenis tanah ini sangat peka terhadap bahaya erosi dan bahaya longsoran. Hal ini mengakibatkan relief tanah yang lebih tinggi menjadi bergelombang dan didataran membentuk bukit-bukit kecil yang cembung yang pernah ditemukan di pulau Sumbawa yang sangat kering yang dinamakan gilgai. Dengan mengatur drainase irigasi dan pengolahan tanah disertai pemupukan bahan organik untuk memperbaiki struktur tanah, jenis tanah ini dapat memberi hasil kapas, padi, dan tebu.
8. Tanah Hidromorfik
Pada umumnya tanah hidromorfik atau hidrosol memiliki sifat porositas dan drainase yang buruk, sehingga mengurangi manfaatnya sebagai tanah pertanian. Topografi tanah ini pada umumnya datar yang memungkinkan tergenang air dan terbentuk glei pada lapisan tanah tertentu. Yang tergolong dalam tanah hidrosol antara lain tanah planosol, glei humik, glei humik rendah, hidromorfik kelabu, podzolik air tanah, dan laterit air tanah.